Saturday, June 8, 2013

PIZZA E BIRRA












Outlet Pizza E Birra yang belum lama saya dan keluarga kunjungi adalah outlet yang terletak di Gandaria City. Nuansa restonya cukup nyaman. Dan outlet di Gandaria City ini juga punya outdoor area. Tapi, malam itu berasa panas, jadi kami lebih memilih indoor area saja. Saya suka dengan konsep resto-resto Ismaya. Mereka selalu punya konsep yang terasa original dan unik. Tapi, jujur saja ... saat bersantap di Pizza E Birra, tidak semua menunya outstanding. However, saya tetap fan nya Ismaya :)

Hal menarik lainnya adalah bagi saya dan keluarga saya yang Muslim, ada rasa nyaman ekstra saat bersantap di Pizza E Birra Gandaria City ini, karena mereka tidak serve pork. Saya sih tidak tahu dengan outlet lainnya. Tapi, setahu saya untuk outlet-outlet Resto Ismaya yang ada di Gandaria City, pihak Ismaya memang tidak menyajikan menu yang menggunakan pork. Contohnya, Fook Yew yang juga restonya Ismaya  di Gandaria City. Di sana pun 100% Halal.


Let's Talk About Food




Ini salah satu menu yang dipesan Ibu saya malam itu. Spaghetti Carbonara with Turkey Bacon and Mushroom (75k). Saya tidak mencobanya, jadi saya tidak bisa berkomentar tentang citarasanya. Tapi, menu itu tandas dengan licinnya sih :) Untuk minuman, kami sepakat mengorder TWG Grand Wedding Tea (27k, bisa 1 kali refiil). Dan, saya suka sekali dengan Grand Weddingnya TWG ini. Black Tea dengan fruity note yang segar dan clean.



Awalnya saya ingin memilih menu ini, tapi karena malam itu saya lagi kepingin makan Salmon Steak, jadi saya melewatkan the quite excellent menu di Pizza E Birra ini. Sausage Hangover(79k) >> Chicken sausage, creamy mashed potato dan spicy gravy sauce. Adik saya dan 2 bocah kecil menikmati menu ini. Meskipun dibilang spicy gravy sauce, tapi menurut kami sih gak ada rasa pedas berlebih, masih acceptable buat lidah anak-anak, soalnya adik saya yang masih 6 tahun saja bisa menyantapnya :) Saya sempat mencicip keseluruhan komponen yang ada di menu Sausage Hangover ini. Chicken Sausage nya punya citarasa yang pas, gurih dan bikin nagih, jujur saja (Saya harus kembali secepatnya ke Pizza E Birra untuk menu ini lol). Tapi, mashed potatonya karena dibikin terlalu creamy memang jadi lembek dan malah biasa aja di lidah saya. Saya suka mashed potato yang tidak terlalu lembek tapi juga creamy enough :) Jadi, ini masalah preference saja sih.






Ini menu pizza yang kami pesan, Fungi E Prosciutto (73k), hanya saja mereka memakai Turkey Ham sebagai pengganti prosciuttonya. Mungkin, di outlet Pizza E Birra lainnya tetap memakai prosciutto, better ask sih :) Pizzanya jenis thin crust dan toppingnya cukup berlimpah. Basic saucenya juga memakai brown sauce jadi cukup gurih. Rasa tomato saucenya tidak seasam salah satu resto pizza+pasta favorit saya yang berinisial PM :)



The Godfather Calzone



Mix Menu



 The Godfather Calzone (65k). Isinya Chilli Con Carne. Saya tidak sempat mencicipinya jadi no comment for taste cuma bisa komentar bahwa menu ini cukup menarik perhatian kami dan bikin joke singkat karena sizenya yang quite big enough (meskipun sesuai sifat Calzone, saat dislice, uap nya akan keluar dan membuat calzone-nya mengempes). Di foto mix menu, menu yang ada di bagian atas pizza di samping Sausage Hangover adalah menu Lamb Rump Steak (85k). Tapi, beneran deh, not recommended. Datang dalam potongan-potongan medium, tekstur alot dan hambar. Ya, ini resto dengan spesialisasi Pizza, jadi untuk Steak memang gak bisa expect too much juga sih.






Mashed Potato - Portion


 Ini menu yang saya pesan, Salmon with Cream Sauce (79k). Di menu, kelihatan cantik dan menggugah. Tapi, ketika datang, saya sedikit kecewa karena presentasinya agak gak sama. Beda dengan Sausage Hangover, yang datang persis seperti di dalam buku menu heheh (Iya, saya tahu ... buku menu sebuah resto biasanya sudah melewati proses fotografi yang rapih dan mungkin sedikit retouch ala photoshop etc tapi tetap saja saya kecewa hehe). Ok, lalu rasa kecewa itu sedikit bertambah menemukan citarasa cream sauce yang quite bland juga tekstur Salmon yang tidak selembut bayangan saya. Hanya tumisan sayurannya saja yang membantu saya menikmati sajian ini. Dan karena tidak ada komponen carbo di hidangan ini, jadi saya memesan side dish Mashed Potato. Tapi, tentu saja yang datang sama dengan yang ada di Sausage Hangover. Jadi, sedikit malas-malasan juga sih jadinya menyantap menu pilihan saya itu.






2 Dessert yang kami pesan adalah Cheesecake Royale (39k-guler) dan Traditional Tiramisu (39k). Cheesecake Royale bentuknya memang seperti pizza yang dasarnya adalah puff pastry yang dibaked dengan adonan Italian cheesecake (menurut penjelasan buku menunya). Disajikan hangat dan lebih baik dinikmati segera saat puff pastrynya masih renyah. Rasanya cukup enak dan tidak terlalu manis.

Ada kalanya berasa bosan dengan Tiramisu. Tapi, malam itu memang lagi kepingin Tiramisu tapi bukan yang real Italian style - dengan komposisi egg yolk, sugar, mascarpone dan white eggs (tanpa cream). Dan beruntung, Tiramisu di Pizza E Birra bukan termasuk yang menggunakan resep dengan white eggs itu, berasa sih dari tekstur creamnya. Untuk Tiramisunya, adonan cream tiramisunya cukup creamy, lembut dan manisnya pas. Rasa kopi dari adonan sponge cake di dasar gelas yang dibrush dengan coffee simple syrup cukup terasa. Ada 1 buah lady finger yang diletakkan di atas gelas, jadi bisa disantap dengan cara dicelup ke cream tiramisunya, memberi ekstra tekstur renyah. Saat revisit nanti, saya pasti pesan Tiramisu mereka lagi :)







all photos by foodserendipity.blogspot.com

Monday, May 27, 2013

Sumatera Eclair di Starbucks





Kembali menulis review makanan lagi di blog ini. Seperti kebanyakan orang yang menulis blog, seringkali blog-nya terbengkalai. Walaupun saya tahu persis persentasi yang menulis blog secara rutin sangat jauh lebih banyak. Jadi, kesalahan dalam menelantarkan blog pribadi memang murni menjadi kesalahan saya pribadi :) Alasannya karena awal tahun ini saya sedang fokus menulis naskah fiksi yang rencananya ingin saya ikutkan dalam sebuah kompetisi menulis fiksi dari sebuah publisher. 


Tapi, lagi-lagi itu bukan alasan juga sih untuk membuat blog sendiri terbengkalai. However, saya belum menjadi food blogger yang sesungguhnya di sini. Foto-foto yang ada pun mostly my amatir food photography yang sangat rustiq sekali, banyak noise dan blur di sana-sini dengan kualitas yang memang masih low sekali :) Tapi, karena saya suka menulis tentang makanan, jadi inilah food blog saya yang apa adanya :D 


 



Ok, stop curhat. 
Sumatera Eclair ala Starbuck. Kali ini saya mau review singkat tentang miss Eclair ini.Kalau dari teksturnya, saya sependapat dengan salah satu teman saya kalau jenis Sumatera Eclair yang ada di Starbucks ini lebih condong ke aslinya, yakni French Eclair/Parisian Eclair, bukan yang lokal kita biasa santap semasa kecil.

Perbedaan utama jelas di choux base nya atau kulit sus nya. Kalau Sumatera Eclair ini lebih crunchy tidak selembut eclair adaptasi di Indonesia. Kalau saya sih suka, meskipun saya berharap toping caramel di atasnya tidak setebal dan semanis yang saya santap.










 Filling dalam dari eclair ini adalah sejenis chocolate coffee cream yang saat saya santap tidak sepekat seperti yang saya duga. Kalau boleh berharap, maunya sih filling chocolate coffee creamnya yang agak pahit saja, supaya bisa meredakan rasa manis berlebih dari caramel toppingnya. Karena rasa manis yang sedikit kuat dari caramel topingnya jadi bikin saya menyingkirkan sebagian caramel toppingnya saat menghabiskan Sumatera Eclair ini. 

Selebihnya, Sumatera Eclair ini untuk saya cukup eatable dan masih membuat saya ingin membelinya lagi (tetap dengan menyingkirkan caramel toppingnya sebagian, jika pada saat menyantapnya lagi masih semanis saat pertama menyantap Sumatera Eclair ini)




Oh ya, pemilihan nama dengan menambahkan Sumatera (sepertinya mengacu ke pemakaian biji kopi asal Sumatera untuk campuran di filling eclair ini, cmiiw) membuat saya angkat topi untuk Starbucks Indonesia :) Jika diperbaiki sedikit beberapa elemen dalam Sumatera Eclair ini, saya rasa Sumatera Eclair ini bisa dilirik para chef du patissier  karena pemakaian biji kopi lokal Indonesia, sekaligus bisa mengangkat biji kopi Indonesia. 

Inspirasi dalam dunia Pastry memang umum terjadi, seperti di bidang lainnya seperti desain contohnya. Untuk di Pastry, contohnnya saja Matcha Eclair yang di up -salah satunya- oleh Sadaharu Aoki yang memiliki Patisserie di Paris dan Jepang. Bahan baku khas Jepang seperti Matcha dan Yuzu (sejenis citrus fruit) lalu jadi tren baru di Paris saat Aoki dulu begitu gencar memakai bahan baku tersebut dalam produk pastrynya, sehingga banyak Chef du Patissier lainnya yang akhirnya juga ikut menggunakan bahan baku tersebut. 
 





All photos by myfreshlybaked.blogspot.com